Senin, 17 Maret 2014

Jejak Aksara Kawi Langka (ṭha ठ)

Hua.... Bener-bener tidur panjang ini namanya. Tugas-tugas di akhir semester perkuliahan selalu bisa bikin mahasiswa cengar-cengir. Apalagi mahasiswanya ngalor ngidul, alias kurang bisa fokus. Tapi yang namanya kuliah, tugas sekecil apapun ya mesti diselesaikan. Soalnya tugas yang ga dikerjakan itu kaya telor busuk. Makin lama didiemin makin bau. Kalo udah bau, deket-deket aja males. Sialnya lagi, telornya harus dikonsumsi pula. Alhasil, blog makin kurang postingan, memang nggak bisa dihindari.

Oke, hal di atas itu jangan dibaca. Tapi kalo udah terlanjur dibaca, lupakan saja. Kalo ga bisa lupa, tulis aksara Kawi di 20 lembar kertas kosong. Dijamin...Lupa? Ya nggak juga, sih.

Baiklah, tulisan singkat ini saya jadikan pemanasan setelah hibernasi (kayaknya udah jadi bubur, nasinya). Topiknya tetap menjadi kegemaran saya; aksara langka. Kali ini adalah aksara ṭha (ठ) .



Terkesan memaksakan kehendak kelihatannya.


Aksara yang jarang kelihatan ngapain diurusi? Pentingnya apa, sih?

Ya, ini penting. Aksara Kawi menurut teori memang berasal dari Pallawa yang dipakai menulis Sansekerta pada awalnya. Sistem penulisan yang digunakan untuk menulis Sansekerta punya kelengkapan aksara khusus.  Di Wikipedia (http://id.wikipedia.org/wiki/Aksara_Kawi, diakses tanggal 17 Maret 2014) tertulis, "aksara Jawa Kuno meliputi 33 huruf konsonan (sama dengan konsonan pada Aksara Pallawa) dan 16 huruf vokal (vokal pada Aksara Pallawa ditambah dua vokal e pepet)."
Jadi niatnya untuk mempertahankan kelengkapan aksara-aksara ini. Kalau salah satu aksara "hilang", mana bisa menuliskan bahasa Sansekerta dengan baik dan benar.

Materi berikut ini saya dapat dari sesepuh di Facebook, Mas Deddy Wilwatikta. Materinya berupa Prasasti Wurare, prasasti peninggalan kerajaan Singhasari. Penggalan dari prasasti ini memuat bentuk pasangan/gantungan (appended form) dari aksara Kawi ṭha (ठ). Namun untuk lebih menguatkan kebenaran dari aksara ini, perlu dibandingkan dengan bentuk alpaprana-nya (ṭa). Untuk pasangan/gantungan aksara ṭa, hanya ditemukan satu, yaitu pada bait ke 15 pada kata wiṣṭisaṃskrte (विष्टिसंस्कृते). Sayang saya tidak punya gambar untuk membandingkan. Karena, untuk mengakses gambar dari prasasti ini susah-susah gampang (untuk saya, susah sih).

Bacaan:
Kekunaan. 2012. "Prasasti Wurare". Tersedia pada http://kekunaan.blogspot.com/2014/02/prasasti-wurare.html (diakses tanggal 17 Maret 2014)
POERBATJARAKA, R. NG. - De inscriptie van het Mahaksobhya-beeld te Simpang (Soerabaya). 's-Gravenhage, Martinus Nijhoff, 1922. 38p.
Ridwan. 2013. "Teks Prasasti Wurare". Tersedia pada http://menguaktabirsejarah.blogspot.com/2012/06/teks-prasasti-wurare.html (diakses tanggal 17 Maret 2014)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar